Tampilkan postingan dengan label Skripsi Komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skripsi Komunikasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 November 2012

UPAYA–UPAYA YANG DILAKUKAN TELEVISI REPUBLIK INDONESIA STASIUN BANDUNG DALAM MENJARING PEMASANG IKLAN



BAB I
PENDAHULUAN


1. 1 Latar Belakang

Bersamaan dengan masuknya Indonesia ke dalam era reformasi, dengan itu pula dunia pers di Indonesia memasuki era kebebasannya. Persaingan di antara media massa pun tak terhindarkan. Tidak terkecuali media televisi, yang dewasa ini diyakini sebagai salah satu media massa yang paling berperan dalam proses globalisasi. Media komunikasi ini dianggap mempunyai kekuatan tersendiri dalam mentransfer gaya hidup dan menyebarkan budaya massa, dibandingkan dengan media komunikasi lainnya.
Kata televisi sendiri berasal dari kata tele (bahasa Yunani) yang artinya jauh, dan kata visi (videre – bahasa Latin) yang artinya penglihatan. Dengan demikian secara harfiah televisi berarti melihat dari jauh. Melihat dari jauh disini diartikan dengan, gambar dan suara yang diproduksi disuatu tempat (studio TV) dapat dilihat dari tempat lain melalui perangkat penerima atau televisi set (Wahyudi, 1986:49).     
Dengan adanya media komunikasi massa televisi, kebutuhan masyarakat akan informasi maupun hiburan menjadi semakin mudah tepenuhi. Bahkan untuk sekarang ini dibandingkan dengan media massa lain, televisi merupakan media yang paling banyak diminati, karena dinilai lebih menarik dengan menampilkan paduan gambar dan suara secara bersamaan sehingga pesan yang disampaikan dapat ditangkap dan diinterpretasikan secara jelas oleh audience.         Televisi memiliki daya tarik yang kuat disebabkan oleh unsur-unsur audio yang berupa suara, dan visual yang berupa gambar hidup yang menimbulkan kesan mendalam pada pemirsanya. Selain karena kelebihan tersebut, televisi juga diminati karena adanya beragam pilihan, mulai dari stasiun televisi sampai program-program acara yang dapat di akses dengan mudah dan cepat oleh pemirsa televisi.
Pada tahun 2001 lalu, di Indonesia telah hadir lima stasiun TV swasta baru, yaitu Metro TV, Trans TV, Lativi, TV7 dan Global TV. Dengan stasiun televisi swasta yang sudah ada sebelumnya, yaitu RCTI, SCTV, ANTV, TPI dan Indosiar, dunia pertelevisian pun semakin meriah dan persaingannya pun semakin ketat. Dengan masing-masing kreatifitas dan keunggulannya, stasiun-stasiun tersebut berusaha memperebutkan perhatian penonton televisi.
Di sisi lain, bermunculannya stasiun-stasiun televisi ternyata telah menggeser kiblat para produsen barang dan jasa dalam memanfaatkan media untuk melakukan promosi. Jangkauan yang lebih luas dari sebuah media televisi, memberikan tawaran biaya yang jauh lebih efisien dibanding media lain. Disamping itu, karakter media televisi juga mampu lebih menjamin efektifitas pesan (iklan) yang ingin mereka sampaikan.
Stasiun-stasiun televisi pun mau tidak mau harus saling berebut “kue iklan” dimana iklan ini dianggap sebagai sebuah hal yang wajib bagi sebuah lembaga pertelevisian, karena “hidup matinya” suatu media terutama media elektronik bergantung pada iklan atau sponsor. Semakin banyak pengiklan yang masuk pada sebuah stasiun televisi maka akan semakin banyak pula  keuntungan akan diperoleh. Hal ini disebabkan, sebagian besar kegiatan operasional pertelevisian dibiayai oleh pendapatan dari iklan.
 Televisi Republik Indonesia (TVRI) sebagai stasiun televisi pelopor milik pemerintah, juga ikut serta membidik peluang dengan kembali menghiasi jam-jam siarannya dengan tayangan iklan. Sebagai stasiun televisi dengan usia paling tua, sebenarnya TVRI adalah stasiun televisi di tanah air yang pertama kali menayangkan iklan.
Siaran iklan di TVRI sendiri dimulai pada tanggal 1 September 1975 berdasarkan Surat Keputusan Dirjen RTF nomor 11/  Kep/ Dirjen/ RTF/ 75. Sebagai satu-satunya media yang mempunyai jangkauan luas dan paling efektif dibanding media lain yang ada ketika itu, pemasukan TVRI dari iklan cukup besar.  Namun dengan pertimbangan kesiapan mayoritas bangsa Indonesia dalam menghadapi implikasi yang dibawa oleh iklan maupun pesan sponsor di media televisi, khususnya terhadap kecendrungan konsumtif yang berkembang, pemerintah mencabut kebijakan memberi izin beriklan di TVRI. Dengan dikeluarkannya SK Mentri Penerangan nomor 30 / Kep/ MenPen/ 1981 berdasarkan pidato Presiden pada Sidang Paripurna DPR RI tanggal 5 Januari 1981 tentang Nota Keuangan RUU APBN 1981/ 1982, maka sejak 1 April 1981 siaran iklan di TVRI pun dihapuskan.
   Ketika Departemen Penerangan RI ditiadakan oleh pemerintah, TVRI yang semula merupakan unit pelaksana teknis dibawah Direktorat Jenderal Radio, Televisi dan Film Departemen Penerangan RI merubah status kelembagaannya. Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah nomor 36 tahun 2000 yang ditanda tangani oleh Presiden Abdurachman Wahid pada tanggal 7 Juni 2000, TVRI resmi menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan).
   Sesuai dengan statusnya sebagai perusahaan, maka TVRI kini terus berbenah diri untuk lebih meningkatkan profesionalisme di semua bidang yang terkait dalam penyiaran terutama dalam memerankan fungsinya sebagai televisi publik. Dengan perubahan pengelolaan TVRI dari televisi pemerintah menjadi televisi publik, dari sudut penyiaran TVRI tidak lagi diatur oleh pemerintah. Dengan itu untuk menunjang kegiatan operasional siaran, TVRI menganggap perlu adanya dukungan dari pihak ketiga, diantaranya dengan menjaring pemasang iklan, sponsorship dan kerjasama. Untuk mengatur siaran iklan, sponsor dan kerjasama melalui Perjan TVRI, dinyatakan dalam SK direksi Perjan TVRI No.  /KPTS/ Direksi/ TV/ 2001 tentang Siaran komersial di Perjan TVRI.
 Setelah kurang lebih 20 tahun TVRI dikenal sebagai stasiun televisi yang anti iklan, memasuki tahun 2000 lalu TVRI mulai mengubah paradigma tersebut dengan kembali menayangkan iklan pada jam-jam siarannya. Namun demikian TVRI kini dianggap sebagai “pemain baru” dalam persaingan perebutan iklan, karena pasar iklan di tanah air bisa dikatakan sudah dikuasai oleh stasiun-stasiun televisi swasta seperti RCTI, SCTV, ANTV, TPI dan Indosiar. Belum lagi TVRI masih harus bersaing dengan stasiun-stasiun TV swasta baru lainnya yang pada kenyataannya stasiun-stasiun televisi tersebut lebih memiliki keunggulan dan telah mendapatkan tempat di hati para pemirsanya.
Untuk menangani permasalahan tersebut, TVRI memandang perlu membentuk satuan kerja Pemasaran dan Program, dimana tugas dari satuan kerja tersebut pada dasarnya adalah untuk memasarkan program-program acara kepada klien sehingga klien tersebut bersedia beriklan di TVRI. Seperti juga stasiun penyiaran TVRI daerah yang lain, Perjan TVRI Bandung pun melalui satuan kerja Pemasaran dan Programnya mulai melakukan berbagai upaya untuk menjaring perusahaan-perusahan untuk mengiklankan produk dan jasanya melalui layar kaca TVRI Bandung.
Dengan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan kajian tentang hal-hal diatas dengan mengambil judul :
“Upaya-upaya Yang dilakukan Perusahaan Jawatan TVRI Bandung
Dalam Menjaring Pemasang Iklan”.
1. 2 Tujuan Penulisan

Berdasarkan judul dan latarbelakang yang diambil, maka penulis merumuskan tujuan-tujuan Penulisan sebagai berikut :
1.    Mengetahui dan memperoleh gambaran tentang bauran pemasaran yang dikembangkan TVRI Bandung dalam rangka menjaring pemasang iklan.
2.    Mengetahui dan memperoleh gambaran tentang kegiatan-kegiatan komunikasi pemasaran yang dilakukan, dalam hubungannya dengan upaya penjaringan pemasang iklan


1. 3  Kegunaan Penulisan

Dengan kajian ini diharapkan kelak akan diperoleh informasi tentang upaya-upaya Perjan TVRI Bandung dalam menjaring pemasang iklan. Hasil dari penulisan sendiri diharapkan dapat digunakan oleh TVRI Stasiun Bandung sebagai arsip dan masukan, serta menambah koleksi bagi perpustakaan dan dapat digunakan oleh pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Di sisi lain penulisan ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis sebagai masukan yang dapat dijadikan rujukan untuk menghadapi dunia kerja.


1. 4 Metode Pendekatan dan Teknik Pengumpulan Data

Studi dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu metode yang digunakan untuk mengamati hal-hal yang terjadi di lapangan, dalam hal ini adalah segala kegiatan di TVRI Bandung, khususnya yang berkaitan dengan proses dan menjaring pemasang iklan.
Sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan cara  :
1.      Observasi
Proses pengumpulan data primer dengan cara pengamatan langsung dan melakukan pencatatan terhadap objek-objek terkait, selama penulis melakukan praktek kerja lapangan. Dalam hal ini penulis mengamati kinerja dan permasalahan baik itu mengenai sistem kerja, sumber daya manusia, dan masalah teknik di satuan Kerja Pemasaran dan Program TVRI Bandung khususnya yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada proses penjaringan pemasang iklan.
2.      Wawancara
Pengumpulan data dengan cara bertanya langsung, dalam hal ini yang menjadi sumber atau responden adalah staf dan karyawan Perjan TVRI Bandung, khususnya pada satuan kerja Pemasaran dan Program.
3.      Studi Literatur
Mempelajari dan mengumpulkan data dari bahan-bahan tertulis yang relevan dengan judul tulisan.


I. 5 Lokasi dan Waktu Praktek Kerja Lapangan

1.5.1  Lokasi Praktek Kerja Lapangan
Penulis melaksanakan praktek kerja lapangan di Perusahaan Jawatan TVRI Bandung yang beralamat di Jln. Cibaduyut Raya No. 267 Bandung Jawa Barat. Perjan TVRI Bandung sendiri merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa, khususnya dalam dunia penyiaran.

1.5.2  Waktu Praktek Kerja Lapangan
Praktek kerja lapangan dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan. Terhitung mulai tanggal 10 Maret s/d 09 April 2003.

Skripsi Komunikasi



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesamanya. Dalam kehidupannya manusia sering dipertemukan satu sama lainnya dalam suatu wadah baik formal maupun informal.
          Organisasi adalah sebuah sistem sosial yang kompleksitasnya jelas terlihat melalui jenis, peringkat, bentuk dan jumlah interaksi yang berlaku. Proses dalam organisasi adalah salah satu faktor penentu dalam mencapai organisasi yang efektif. Salah satu proses yang akan selalu terjadi dalam organisasi apapun adalah proses komunikasi. Melalui organisasi terjadi pertukaran informasi, gagasan, dan pengalaman. Mengingat perannya yang penting dalam menunjang kelancaran berorganisasi, maka perhatian yang cukup perlu dicurahkan untuk mengelola komunikasi dalam organisasi. Proses komunikasi yang begitu dinamik dapat menimbulkan berbagai masalah yang mempengaruhi pencapaian sebuah organisasi terutama dengan timbulnya salah faham dan konflik
Komunikasi memelihara motivasi dengan memberikan penjelasan kepada para pegawai tentang apa yang harus dilakukan, seberapa baik mereka mengerjakannya dan apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja jika sedang berada di bawah standar.
Aktivitas komunikasi di perkantoran senantiasa disertai dengan tujuan yang ingin dicapai. sesama dalam kelompok dan masyarakat. Budaya komunikasi dalam konteks komunikasi organisasi harus dilihat dari berbagai sisi. Sisi pertama adalah komunikasi antara atasan kepada bawahan. Sisi kedua antara pegawai yang satu dengan pegawai yang lain. Sisi ketiga adalah antara pegawai kepada atasan. Masing-masing komunikasi tersebut mempunyai polanya masing-masing.
 Di antara kedua belah pihak harus ada two-way-communications atau komunikasi dua arah atau komunikasi timbal balik, untuk itu diperlukan adanya kerja sama yang diharapkan untuk mencapai cita-cita, baik cita-cita pribadi, maupun kelompok, untuk mencapai tujuan suatu organisasi.
Komunikasi merupakan sarana untuk mengadakan koordinasi antara berbagai subsistem dalam perkantoran. Menurut Kohler ada dua model komunikasi dalam rangka meningkatkan kinerja dan mencapai tujuan perkantoran ini. Pertama, komunikasi koordinatif, yaitu proses komunikasi yang berfungsi untuk menyatukan bagian-bagian (subsistem) perkantoran. Kedua, komunikasi interaktif, ialah proses pertukaran informasi yang berjalan secara berkesinambungan, pertukaran pendapat dan sikap yang dipakai sebagai dasar penyesuaian di antara sub-sub sistem dalam perkantoran, maupun antara perkantoran dengan mitra kerja. Frekuensi dan intensitas komunikasi yang dilakukan juga turut mempengaruhi hasil dari suatu proses komunikasi tersebut.
Dalam hal komunikasi yang terjadi antar pegawai, kompetensi komunikasi yang baik akan mampu memperoleh dan mengembangkan tugas yang diembannya, sehingga tingkat kinerja suatu organisasi (perkantoran) menjadi semakin baik. Dan sebaliknya, apabila terjadi komunikasi yang buruk akibat tidak terjalinnya hubungan yang baik, sikap yang otoriter atau acuh, perbedaan pendapat atau konflik yang berkepanjangan, dan sebagainya, dapat berdampak pada hasil kerja yang tidak maksimal.
Peningkatan kinerja pegawai secara perorangan akan mendorong kinerja sumber daya manusia secara keseluruhan dan memberikan feed back yang tepat terhadap perubahan perilaku, yang direkflesikan dalam kenaikan produktifitas.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang merupakan salah satu organisasi formal di lingkungan aparatur pemerintah yang memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pembangunan khususnya kota Palembang. Program-program kerja yang dirancang bertujuan untuk menmpromosikan dan melindungi bidang kepariwisataan yang merupakan aset negara yang sangat penting sehingga sangat diharapkan kinerja yang optimal yang dapat diwujudkan melalui peranan komunikasi yang efektif supaya dapat memenuhi peran dan fungsinya sebagai aparat pemerintah yang mengabdikan dirinya pada bangsa dan negara ini.
Melihat pengaruh yang sangat penting antara proses komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi khususnya komunikasi interpersonal antar pegawai dengan tingkat kinerja pegawai maka penulis tertarik mengambil judul “Pengaruh Komunikasi Interpersonal Antar Pegawai Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang.”

1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat diidentifikasi permasalahan-permasalahan berikut :
  1.  Masih kurangnya komunikasi interpersonal yang terjadi antar pegawai.
  2. Masih banyak ditemukan kendala atau hambatan-hambatan dalam melakukan komunikasi interpersonal.
  3. Kurang optimalnya kinerja pegawai akibat buruknya proses komunikasi interpersonal yang terjadi.

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : “Bagaimana pengaruh komunikasi interpersonal terhadap kinerja pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang ?”.

1.3 Pembatasan Masalah
1.      Penelitian dibatasi pada permasalahan komunikasi interpersonal yang terjadi pada pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang.
2.      Hanya terbatas pada pegawai di lingkungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan  Kota Palembang.

1.4 Maksud dan Tujuan Penelitian
            Adapun maksud dan tujuan dilakukannya penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui proses komunikasi interpersonal antar pegawai.
2.      Untuk mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang terjadi selama proses komunikasi interpersonal.
3.      Untuk mengetahui tingkat kinerja pegawai akibat pengaruh proses komunikasi interpersonal.
1.5 Kegunaan Penelitian
1.      Sebagai masukan atau sumbangan pemikiran dan sumber informasi bagi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang dalam hal peningkatan kinerja pegawai.
2.      Dapat menjadi bahan bagi peneliti selanjutnya mengenai komunikasi interpersonal dalam sebuah organisasi.
3.      Sebagai salah satu syarat guna meraih gelar Sarjana Negara Strata Satu (S1) Jurusan Ilmu Komunikasi Stisipol Candradimuka Palembang.

1.6 Kerangka Pemikiran
      Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, komunikasi mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap kinerja pegawai. Menurut defenisi Carl I. Hovland “Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator)  menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikan)”.
Salah satu jenis komunikasi yang sangat penting adalah komunikasi interpersonal atau komunikasi yang terjadi secara tatap muka antara beberapa pribadi yang memungkinkan respon verbal maupun nonverbal berlangsung secara langsung. Dalam operasionalnya, komunikasi berlangsung secara timbal balik dan menghasilkan feed back secara langsung dalam menanggapi suatu pesan. Komunikasi yang dilakukan dengan dua arah dan feed back secara langsung akan sangat memungkinkan untuk terjadinya komunikasi yang efektif. Hal ini sesuai dengan pendapat Onong U. Effendy yang mengatakan bahwa, “Efektifitas komunikasi antar pribadi itu ialah karena adanya arus balik langsung”.
Di dalam suatu organisasi khususnya perkantoran, proses komunikasi adalah proses yang pasti dan selalu terjadi. Komunikasi adalah sarana untuk mengadakan koordinasi antara berbagai subsistem dalam perkantoran. Perkantoran yang berfungsi baik, ditandai oleh adanya kerjasama secara sinergis dan harmonis dari berbagai komponen. Suatu perkantoran dikonstruksi dan dipelihara dengan komunikasi. Artinya, ketika proses komunikasi antar komponen tersebut dapat diselenggarakan secara harmonis, maka perkantoran tersebut semakin kokoh dan kinerja perkantoran akan meningkat.
Peningkatan kinerja pegawai secara perorangan akan mendorong kinerja sumber daya manusia secara keseluruhan dan memberikan feed back yang tepat terhadap perubahan perilaku, yang direkflesikan dalam kenaikan produktifitas. Jadi dapat dikatakan bahwa keberhasilan suatu organisasi sangat didukung dari tingkat kinerja pegawai yang sangat dipengaruhi oleh proses komunikasi yang terjadi antar pegawai.

MEDIA KOMUNIKASI MASSA DALAM PEMBANGUNAN



BAB II

MEDIA KOMUNIKASI MASSA DALAM PEMBANGUNAN



A.        Komunikasi Pembangunan

1.         Pengertian komunikasi
Kamus umum Bahasa Indonesia menjelaskan pengertian "komunikasi" sama dengan perhubungan. Ini berarti komunikasi merupakan sarana bagi orang untuk berhubungan dengan menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada kelompok dan masyarakat luas.
Para pakar komunikasi sendiri memberikan definisi yang beragam mengenai komunikasi;
a.         Gerbner menyatakan bahwa komunikasi didefinisikan sebagai interaksi
sosial melalui pesan,
b.         Theodorson dan Thedorson menyatakan komunikasi adalah penyampaian
atau penyebaran informasi-inforrnasi yang memuat ide, perilaku atau emosi dari seseorang atau kelompok kepada orang atau kelompok lain khususnya dengan menggunakan simbol-simbol,
c.         Osgood menyatakan bahwa komunikasi terjadi jika suatu sistem, sumber
informasi, mempengaruhi yang lain (kelompok atau orang), ada tujuan,
dengan memanipulasi   simbol-simbol  alternatif yang  dapat  dikirimkan
melalui saluran yang menghubungkan mereka (Dennis McQuail, 1993: 4).
Komunikasi adalah suatu proses, yang dalam proses itu beberapa partisipan bertukar tanda-tanda informasi dalam suatu waktu. Tanda-tanda informasi dapat saja bersifat :
a.         Verbal meliputi kata-kata, angka, baik yang tertulis maupun yang diucapkan,
b.         Non-verbal meliputi ekspresi formal, gerak anggota tubuh, pakaian warna, musik, waktu, ruang, rasa sentuhan dan bau,
c.         Paralinguistik meliputi kualitas suara, kecepatan berbicara, tekanan suara dan vokalisasi, yang bukan kata, yang digunakan untuk menunjukkan makna dan emosi tertentu.
Pada masa silam komunikasi biasanya dijelaskan dengan memperhatikan secara khusus seorang pengirim dan seorang penerima akan tetapi riset secara berangsur-angsur mengubah perspektif ini. Sekarang komunikasi tidak lagi dianggap sebagai suatu aliran informasi searah dari pengirim kepada penerima tetapi sebagai suatu proses yang inter aktif dan konvergen (Amri Jahi, 1988: 3).
Dalam bukunya "Communicating in Groups : Applications and Skills" Gloria JG menjelaskan bahwa kata "komunikasi" telah digunakan dalam berbagai bentuk oleh penulis yang berbeda. Kita menggunakan "komunikasi" untuk menunjukkan kepada proses penciptaan, pengiriman, penerimaan, pengartian tanda atau simbol oleh manusia Komunikasi adalah persepsi atau pandangan, interpretasi, dan tanggapan dan orang kepada tanda atau simbol yang dihasilkan oleh orang lain. Pengertian yang kelihatannya sederhana ini mempunyai 5 implikasi utama:
1.         Komunikasi adalah suatu proses, bukan sesuatu atau pernyataan. Proses ini terus berkelanjutan tanpa diketahui awal atau akhir yang jelas. Tanda atau simbol dari seseorang berawal dari perasaan atau pemikiran, dan tak seorangpun dapat menjelaskan pengaruhnya pada bagian akhir yang lain. Pengalaman yang dialami manusia dan tanggapan yang diberikan tidak dapat diduplikasi atau diulang secara persis. Pesan dapat diulang dan dipelihara serta tidak berubah, seperti memo atau pernyataan. Anda tidak dapat masuk ke dalam sungai dengan aliran yang sama dua kali, meskipun tidak terlihat namun kondisinya berbeda Sama halnya dengan aliran komunikasi antara manusia Komunikasi adalah suatu proses yang sangat kompleks karena melibatkan perasaan, pengertian dan pengalaman kebudayaan manusia bukan hanya sekedar kata-kata saja. Selama proses, seseorang mengalami persepsi atau perasaan dan mengekspresikan pengalaman ini dengan menerjemahkannya ke dalam kata-kata dan atau tanda-tanda non verbal. Ekspresi dikirimkan sebagai pulsa energi ke udara atau media lain, sehingga orang lain dapat merasakan dan memberikan tanggapan terhadap ekspresi itu.
2.         Komunikasi manusia adalah fenomena penerima.
Jika Anda tidak mempunyai penerima, Anda tidak memiliki komunikasi. Bila Anda berbicara sementara tidak seorangpun mendengarkan, komunikasi tidak terjadi. Bila Anda ingin menjadi komunikator yang baik dalam kelompok, Anda harus memberikan perhatian kepada bagaimana Anda mendengar dan mengartikan daripada bagaimana Anda berbicara.
3.         Komunikasi adalah simbolis; hal ini berimplikasi baik pada keuntungan dari kemampuan. Ada dua kategori utama signal dari orang: tanda dan simbol. Tanda adalah kejadian alam yang secara otomatis berhubungan dengan yang diwakilinya. Simbol, bertentangan dengan tanda, adalah suatu bentuk signal yang dibuat oleh manusia yang dapat berubah mewakili sesuatu dengan tidak memiliki hubungan secara langsung maupun alami. Simbol juga mungkin berarti sesuatu yang tidak memiliki bentuk nyata, seperti hubungan antara manusia.
4.         Komunikasi antar muka (face to face) merupakan suatu proses transaksional. Ada 2 (dua) pengertian utama dari "transaksional" yaitu ;
a.         Dalam   penerapannya   bahwa   komunikasi   merupakan   proses   yang berkelanjutan dan multi direksional (berbagai arah).
b.         Semua unsur dalam sistem komunikasi saling mempengaruhi.
5.         Membuat komunikasi yang produktif adalah tanggung jawab dari tiap anggota
(masyarakat). Ada kecenderungan untuk saling menyalahkan apabila ada suatu pernyataan tidak didengar, disalah artikan, dilupakan dan diabaikan. Jadi setiap orang harus  tetap mengawasi bagaimana proses komunikasi  terjadi  dan menyelesaikan permasalahan seperti yang diharapkan. Hal ini merupakan suatu penerapan langsung dari definisi komunikasi sebagai transaksional, kompleks, dan simbolik.

Pelaksanaan komunikasi bermedia dilaksanakan dengan menggunakan saluran atau sarana untuk meneruskan suatu pesan kepada komunikan yang jauh tempatnya serta dengan lebih dari satu komunikan. Komunikasi ini sering disebut tak langsung dan sebagai konsekuensinya arus balik tidak terjadi pada saat komunikasi dilangsungkan Komunikator tidak dapat langsung mengetahui tanggapan komunikannya pada saat berkomunikasi. Oleh sebab itu dalam melancarkan komunikasi bentuk ini komunikator harus matang dalam perencanaan dan persiapan agar komunikasi itu tercapai.


2.         Komunikasi Pembangunan
Dalam pembangunan, komunikasi ialah proses yang memungkinkan komponen-komponen suatu sistem sosial atau sistem itu sendiri memperoleh dan bertukar informasi yang dibutuhkan pihak lain. Sistem sosial itu memerlukan berbagai macam informasi untuk menyesuaikan diri dan menjaga keseimbangan dengan lingkungannya yang mungkin berubah setiap saat.
Penyesuaian diri sistem sosial tersebut dengan lingkungannya yang telah berubah itu yang biasanya berupa perubahan-perubahan bisa disebut sebagai pembangunan. Dalam hubungan ini perubahan-perubahan itu boleh saja menyangkut aspek-aspek sosial, ekonomi dan teknologi pada sistem tersebut Seringkali ke tiga macam perubahan itu terkait satu sama lain (Amri Jahi, 1988: xiii).
Komunikasi merupakan dasar yang menentukan bagi pengetahuan dan kemajuan manusia Komunikasi memelihara dan menggerakkan kehidupan dan menjadi alat untuk menggambarkan kehidupan masyarakat dan peradaban. Komunikasi juga mengubah naluri menjadi inspirasi melalui berbagai proses dan sistem untuk bertanya, memberitahu dan mengawasi serta dapat menciptakan suatu tempat menyimpan bersama, memperkuat perasaan kebersamaan dengan tukar menukar berita dan mengubah pemikiran menjadi tindakan yang menggambarkan setiap emosi dan kebutuhan hidup yang paling sederhana sampai ke hal-hal yang ilmiah sifatnya.
Perkembangan dunia menjadikan komunikasi semakin kompleks dan rumit dengan adanya usaha untuk membebaskan manusia dari kemiskinan, penindasan dan ketakutan yang akhirnya mempersatukan manusia.
Komunikasi diabdikan pada usaha mengadakan persuasi dengan tujuan agar dalam masyarakat dapat tumbuh dan berkembang sikap mental dan tekad, semangat, ketaatan serta disiplin tinggi yang dapat membina kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan demi tercapainya sukses dari tahap ke tahap mempunyai tempat yang penting dalam pembangunan nasional.
Persuasi di sini diartikan sebagai usaha ke arah pembangunan dan perubahan sikap, suatu usaha yang lebih berorientasi kepada masyarakat. Dengan demikian maka kegiatan komunikasi dan infonnasi berorientasi sukses.
Dalam pelaksanaan pembangunan peranan komunikasi tidak dapat diabaikan. Bahkan komunikasi merupakan faktor yang sangat menentukan pelaksanaan pembangunan. Hal inilah yang kemudian menimbulkan konsep "komunikasi pembangunan".
Konsep komunikasi pembangunan dapat dilihat dalam arti yang luas dan terbatas. Dalam arti luas, komunikasi pembangunan meliputi peran dan fungsi komunikasi di antara semua pihak yang terlibat dalam usaha pembangunan. Dalam arti sempit, komunikasi pembangunan merupakan segala upaya dan cara serta teknik penyampaian gagasan dan keterampilan-keterampilan pembangunan yang berasal dari pihak yang memprakarsai pembangunan yang ditujukan pada masyarakat. Kegiatan tersebut bertujuan agar masyarakat yang dituju dapat memahami, menerima dan berpartisipasi dalam melaksanakan gagasan yang disampaikan.
Dalam komunikasi pembangunan yang diutamakan adalah kegiatan mendidik dan memotivasi masyarakat bukannya memberi laporan yang tidak realistik dari fakta-fakta atau sekedar penonjolan diri. Tujuan komunikasi pembangunan adalah untuk menuangkan gagasan, sikap mental dan mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan oleh suatu negara berkembang. Secara pragmatis dapatlah dirumuskan bahwa komunikasi yang dilakukan untuk melaksanakan rencana pembangunan suatu negara.
Komunikasi dalam hal tersebut digunakan sebagai penunjang pembangunan. Secara luas komunikasi penunjang pembangunan dapat didefinisikan sebagai suatu penggunaan yang berencana sumber-sumber daya informasi dan komunikasi oleh suatu organisasi untuk mencapai tujuannya. Sumber daya komunikasi tersebut mencakup tenaga, biaya, fasilitas dan peralatan, bahan-bahan dan media komunikasi. Suatu kemampuan komunikasi penunjang pembangunan di lingkungan suatu badan akan meningkatkan kreativitas programnya dengan membantu mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku sifatnya dan khalayak sasaran program yang ditujukan menurut arah yang diinginkan.

B.        Informasi Dalam Komunikasi

1.         Pengertian Informasi

Informasi adalah unsur pokok dalam komunikasi. Informasi bukan hanya perihal fakta dan kebenaran bahkan lebih luas lagi, yaitu tentang ruang lingkup, proses dan penggunaan informasi itu sendiri.
Kamus komunikasi menerangkan bahwa informasi adalah keterangan yang membuat orang menjadi tahu atau mengerti, keterangan-keterangan yang dipakai untuk mengambil kesimpulan, penerangan atau kegiatan dengan tujuan membuat orang atau khalayak menjadi mengerti tentang berbagai persoalan.
Informasi juga dapat diartikan sebagai suatu hal yang memberikan pengetahuan. Pengertian memberikan pengetahuan adalah bahwa kandungan informasi itu menunjukkan banyaknya pengetahuan tambahan yang diperoleh dari sebuah pesan atau informasi, sehingga tingginya kandungan informasi dalam suatu pesan menunjukkan besarnya pengetahuan tambahan (Otto Soemarwoto, 1989: I).
Informasi sebagai salah satu unsur penting dalam komunikasi harus dinamis dengan dialirkan pada orang lain. Informasi itu harus bergerak, mudah dimengerti, utuh dan bulat Informasi itu menginginkan suatu respon dari penerimanya. Agar efektif maka harus diperhatikan dan dirinci suatu sistem informasi.
2.         Penggunaan Informasi
Perkembangan teknologi informasi pada abad ke 20 membawa manusia menuju ke jaman yang setiap aktivitas dan kehidupannya sangat bergantung kepada informasi. Ketergantungan itu ada sebab informasi menyajikan fakta, membangkitkan perasaan bahkan membentuk dan menentukan arah yang kesemuanya apabila disebarluaskan akan dapat bermanfaat bagi pembangunan dan kesejahteraan umat manusia.
Semakin maju teknologi informasi maka semakin mudah, cepat dan murah untuk memperoleh informasi yang diharapkan dan hal itu lebih sering disajikan dalam berbagai bentuk yang sangat menarik. Perubahan dan perkembangan informasi telah mengantarkan masyarakat ke arah era baru yaitu masyarakat informasi.
Informasi telah menjadi kebutuhan pokok manusia yang tak pernah habis bahkan terus berkembang dengan jangkauan yang tak terbatas. Sebagai sumber daya, informasi tak pernah kering, sehingga orang yang pekerjaannya menghimpun dan mengolah informasi akan selalu menghadapi permasalahan bagaimana cara yang sebaik-baiknya memilih, meyimpan, menemukan kembali serta mengembangkan dan menyebarluaskan informasi tersebut kepada masyarakat.